memulainya dengan menjadi office boy di sebuah perusahaan swasta. Lalu
ia beralih menjadi pedagang ayam bakar di pinggir jalan. Ternyata
sukses. Kini Pramono sudah menjadi miliarder yang memiliki banyak usaha.
Siapa yang tidak ngiler..?
“Kalau cerita saya dibikin sinetron
mungkin akan menarik,” kata pria pemilik usaha Ayam Bakar Mas Mono ini
ketika bercakap cakap dengan saya di salah satu kedainya di Jalan Tebet
Raya No 57, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Namun, ayah satu anak
yang akrab dipanggil Mas Mono ini buru buru menambahkan bahwa sukses
bisa diraihnya setelah melewati proses yang cukup panjang. la meyakini,
dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang instan. Artinya, kalau ingin
sukses mesti lewat perjuangan.
“Orang tidak tahu dan mungkin
tidak mau tahu, ketika memulai usaha ini saya harus ke pasar jam tiga
dinihari. Jam empat subuh sudah menyalakan kompor, ketika kebanyakan
orang masih tidur,” ujar Pramono.
Awalnya, suami Nunung ini
berjualan ayam bakar di pinggir Jalan Soepomo, Jakarta Selatan,
persisnya di seberang Universitas Sahid. Di tempat itu, setiap
hari-kecuali hari libur dia menggelar tenda, bangku dan meja untuk
berdagang.
Dengan memakai kaus, celana gombrang dan sandal jepit,
dia setia melayani pembeli yang datang dari pagi sampai pukul 14.00.
Sebagian pembelinya adalah mahasiswa dan orang kantoran yang bekerja di
wilayah tersebut.
“Tapi ya namanya dagang kaki lima, ada
gilirannya. Saya dagang dari pagi sampai siang. Dagangan habis nggak
habis saya harus tutup. Lalu, jam 14.00 diganti pedagang lain yang
menjual nasi goreng, pecel lele dan seafood,” tutur Pramono sambil
memperlihatkan foto lamanya di laptop.
Pria yang menamatkan S3
(maksudnya tamat SD, SMP, SMA) di Madiun ini belakangan akrab dengan
laptop karena dia menjadi salah seorang mentor nasional dari
Entrepreneur University (EU). Foto-foto lamanya itu menjadi salah satu
bahan presentasinya ketika membawakan materi tentang wirausaha.
Menurut
Pramono, sejak dulu dia suka fotografi tapi hanya sebatas hobi. Bukan
karena dia tahu akari sukses. Jika diamati, foto Pramono saat masih
berjualan di pinggir jalan dan saat ditemui Warta Kota beberapa hari
lalu, memang berbeda jauh. Dulu dia terlihat kurus, sekarang tampak
macho dan keren.
“Ya, bedalah Mas. Dulu tidak terawat, sekarang
terawat. Dulu nggak punya tabungan,sekarang tabungan banyak di bank,”
ujarnya sambil menunjukkan tabungannya yang pernah mencapai persis Rp 1
miliar.
Salah satu kebiasaan positif yang dimiliki Pramono dan
sangat memberi inspirasi adalah kesenangannya belajar sesuatu yang baru
untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Tahun 1999, ketika menjadi office
boy di sebuah perusahaan swasta, Pramono selalu memanfaatkan,waktu
luangnya dengan belajar komputer. Bukan bermain bermain game seperti
kebanyakan orang. Sebab dia tahu, dengan menguasai keterampilan itu
kariernya bisa naik dan gajinya juga akan lebih besar.
Pramono
benar, karena kariernya terus meningkat hingga akhirnya diangkat menjadi
supervisor. Meski jabatannya cukup tinggi tapi dia terus tertantang
untuk meningkatkan taraf hidupnya. Cita-citanya cuma satu, bagaimana
caranya lebih membahagiakan orang-orang yang dicintai, keluarga dan
orangtuanya.
Akhirnya, tahun 2001 dia keluar dart perusahaan
tersebut dan memulai usaha dengan berjualan gorengan keliling di
seputar,wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Langkahnya rada ekstrem.
Sebab, bagi Pramono, untuk memulai usaha tidak perlu banyak berpikir,
apalagi menghitung rugi laba. Yang terpenting adalah melakukan action.
“Banyak
saudara saya yang tidak terima dengan keputusan itu. Apalagi pada
awal-awal berdagang, omzetnya baru Rp 15.000 sampai Rp 20.000 per hari,”
ujarnya.
Meski menghadapi banyak tantangan, Pramono tidak mau
mundur. Sampai akhirnya dia mendapat lapak kosong di seberang
Universitas Sahid. Dengan modal Rp 500.000 untuk membeli gerobak dan
peralatan lainnya, termasuk ayam lima ekor, Pramono membuka lembaran
barunya dengan menjual ayam bakar. Namun karena belum mahir mendorong
gerobak, pernah suatu ketika ayam dagangan jatuh ke pasir. Terpaksa ayam
tersebut harus dibersihkan dulu.
“Kalau orang lain mungkin sudah
mikir macam-macam. Wah ini tanda sepi, nggak laku, karena baru mau
jualan ayamnya sudah jatuh, sial. Namun, kalau saya justru berpikir
lain. Wah, ini pertanda bagus, dagangan saya bakal laku. Sebab, saya
menggunakan otak kanan. Selalu optimis dan percaya dirt,” tegas Pramono.
Terlepas
dart peristiwa itu, beberapa tahun kemudian usaha Ayam Bakar Mas Mono
berkembang pesat. Dia mempunyai 13 cabang dan dalam satu hari bisa
menjual 1.000 ekor ayam. “Sampai sekarang saya merasa seperti mimpi. Kok
bisa ya,” kata Pramono.
Bila kita melihat tempat makan tersebut
kelihatan sempit sekali kira-kira berdiameter 3 x 5 meter. Tetapi yang
bikin menariknya lagi tempat tersebut dipenuhi oleh foto-foto para artis
terkenal dan disertai tanda tangan yang rata-rata mengatakan "ayam
bakar mas mono uenak tenan..", diantaranya Cut Tari, Indy Barens, Indra
Bekti, Aming, Ello, Ferry Salim, Uya Kuya, dan masih banyak lagi artis
yang pernah makan ditempat tersebut. Tapi tempat bagi saya tidak
penting, tetapi yang paling penting adalah menyantap ayam bakarnya yang
tiada duanya, ujarnya..
Dan lama kelamaan bisnis itu kini sudah mempunyai tujuh anak cabang antara lain:
1. Jl. Soepomo, depan Universitas Sahid
2. Jl. Tebet Timur Dalam No. 48
3. Jl. Pangadegan Selatan Raya
4. Jl. Pulo Nangka Barat II No. 86
5. Kantin Kampus ASMI - Pulo Mas
6. Jl. Inspeksi Saluran E 26 - Kalimalang
Dan
pusatnya sendiri berada di Jl. Tebet Raya No. 57, Tebet - Jakarta
Selatan. Telp. 92811166, Hp. 08128218674. Tempat tersebut buka pada jam
08.30 - 21.00. Ayam bakar Mas Mono ini menerima pesanan lho..mulai dari
tumpeng, nasi box, prasmanan untuk pesta, sampai bazaar.
Biasanya
kalau sudah masuk waktunya makan siang, tempat tersebut ramai sekali
dengan pengunjung mayoritas para karyawan, banyak pula para mahasiswa
dan pelajar yang makan di tempat tersebut.
Saya jamin anda yang
pernah merasakan kenikmatan rasa dari ayam bakar Mas Mono ini akan
menambah porsi makan, termasuk saya tentunya
Dengan Rp. 8.500,- saja, anda sudah bisa menyantap ayam bakar dan merasakan kelezatannya yang tak tertandingi rasanya.
Sumber : http://edwinagoes.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar